Senin, 24 April 2017

Cara Membuat Pakan Kambing Fermentasi dengan Pola HCS


Cara Membuat Pakan Kambing Fermentasi Dengan Pola HCS di bawah ini, layak dicoba, karena sudah banyak yang membuktikan, di berbagai wilayah di Indonesia, dan rata-rata menyatakan puas. Kambing bisa makan gedebog pisang, enceng gondok, jerami basah/kering, daun-daun kering, sehingga lebih hemat biaya, lebih hemat waktu (dapat stok pakan untuk seminggu, bahkan bisa tahunan, jika memakai fermentasi kering), kambing lebih sehat, cepat pertumbuhan badannya, kotorannya TIDAK BAU. Sungguh sangat menguntungkan bagi peternak ataupun bagi petani, shg mereka bisa mengolah pertanian atau perkebunan, juga memelihara kambing dalam jumlah yang banyak, tanpa kerepotan.

BAHAN PAKAN FERMENTASI YANG DIPERLUKAN :

     1. Karbohidrat terdapat pada : Ampas ketela / singkong kering, tepung jagung, katul
     2. Protein terdapat pada : Ampas kecap, ampas tahu / ampas bir, kled / kulit kedelai, kulit kacang  hijau, bungkil
     3. Serat terdapat pada : Segala macam jerami, segala macam rumput, rapak tebu / daduk, rendeng kedele, kangkung, pohon pisang, enceng gondok, dll. Jenis limbah tanaman kering ( jerami, dll yg sdh kering ), ini untuk membuat pakan kering. Jenis limbah tanaman basah ( gedebok pisang, enceng gondok ), ini untuk membuat pakan basah.
     4. Mineral dan Kalsium terdapat pada : Gamping / cangkang telur / tepung tulang, garam
     5. SOC (Suplemen Organik Cair) sebagai probiotik.
     6. Tetes tebu bisa diganti gula pasir ¼ x berat tetes tebu.
     7. Air

KOMPOSISI PAKAN KAMBING (TIPE BASAH) PER KWINTAL BAHAN UTAMA (Difermentasi dengan SOC-HCS)
      
CAMPURAN MINIMAL :                                     

- Pohon Pisang / Jerami : 100 kg,                                
- Ampas Tahu : 15 kg,                                                    
- Kantul / Dedak : 3 kg,                                                       
- Garam : ¼ kg,                                                                
- Tetes Tebu : 4 ons (Gula pasir : 1 ons ),                      
- SOC-HCS : 30cc ( 3 tutup botol SOC-HCS ),              
- Air : kira-kira 1 liter atau sesuai kebutuhan                  



 KOMPOSISI CAMPURAN PILIHAN :

- Batang pisang cacahan    70 kg
- Ampas tahu                      30 kg
- Katul / Dedak                   10 kg    
- Garam                              0,5 kg    
- Gula pasir                         5 sendok
SOC-HCS                        5 tutup

- Air                                    2 liter

CARA MEMBUAT :

      - Pohon pisang / jerami basah dipotong-potong ( dicacah )
      - Campurkan potongan pohon pisang / jerami, ampas tahu, dan katul
      -  Masukkan gula pasir ke dalam 1 liter air, aduk hingga rata
      - Campur SOC-HCS ke dalam air manis tadi, aduk hingga rata, lalu diamkan selama 15 menit, untuk memberi kesempatan mikrobanya berkembang biak. Setelah 15 menit, campurkan ke air yang agak banyak, sesuai kebutuhan, dgn perkiraan kalau campuran diremas tidak mengeluarkan air, cuma netes 1-2 tetes saja
      - Siramkan ke campuran pakan hingga rata, bisa dengan alat penyiram tanaman, agar benar-benar rata, kemudian taburkan garam dan aduk pakan sampai rata.
      -  Masukkan pakan ke dalam drum plastik, lalu tutup rapat (bisa juga tutup dgn terpal sampai kedap udara)
      - Diamkan selama 1-3 jam agar fermentasi berjalan dengan baik.
              
      Pakan siap untuk diberikan pada ternak (Kambing/Sapi) setiap pagi dan sore

 KETERANGAN
              
      1-7 hari tiap pagi ternak diberi pakan seperti biasa yang telah disemprotkan SOC-HCS.
      Sore hari diberi pakan buatan.
      Bila masih kurang semangat tambahkan pakan biasa.
            
     Selanjutnya ternak akan normal dengan pakan fermentasi ini. Untuk perbandingan, bila menggunakan pakan biasa, pertumbuhan ternak sampai siap jual sekitar 6 bulan, kalau dengan pakan fermentasi ini, hanya butuh waktu kira-kira 3 bulan saja.

Setelah difermentasi, taruh pakan di tempat terbuka, jangan tertutup rapat, agar tak terjadi fermentasi lanjutan. Maksimal stok hanya sampai kira-kira 6 hari saja, lalu membuat pakan fermentasi basah lagi untuk stok 6 hari ke depan.

Untuk membuat Pakan Fermentasi Kering, komposisinya sama hanya bedanya :

1. Jerami yg digunakan yang sudah kering.
2. Larutan manis ( Air 1 liter sdh dicampur gula/tetes tebu ) dicampur rata dengan SOC HCS, diamkan selama 15 menit agar mikrobanya menjadi aktif dan berkembang biak. Setelah 15 menit, tambahkan air lagi kira-kira 10 liter, aduk rata. Campuran larutan ini dipakai untuk pencelupan jerami kering, atau diciprat-cipratkan ketumpukan jerami, lalu diinjak-injak agar empuk, dibuat lapis demi lapis, sambil dicampurkan / ditaburkan bahan lainnya, selain ampas tahu.
3. Campuran ini lalu dimasukkan ke dalam drum atau ditutup terpal rapat-rapat, difermentasi selama 24 jam.
4. Setelah 24 jam, diangin-anginkan atau ditaruh ditempat yang tidak kena hujan. Masa simpan bisa bertahun-tahun.
5. Ampas tahu diberikan atau dicampurkan pada saat mau memberi makan ke kambing
             
     Dengan pakan fermentasi Pola HCS ini, kotoran ternak menjadi TIDAK BAU sehingga tidak mengganggu lingkungan.

Ternak lebih sehat, bobotnya cepat bertambah ( lebih cepat gemuk )

Bau dagingnya tidak "prengus", dagingnya juga rendah kolesterol

Urine dan kotorannya bisa dipakai untuk pembuatan pupuk organik. 


Dari 20 ekor kambing yang menggunakan SOC-HCS, kotorannya bisa dibuat pupuk untuk satu hektar sawah ( tanpa menggunakan pupuk kimia lagi ). Jadi lebih hemat, dan keuntungan tambahan lagi, tidak perlu menyiangi rumput ( tidak matun lagi )

Demikian Cara Membuat Pakan Kambing Fermentasi Dengan Pola HCS

Silahkan hubungi : LEO MURWANTO, 
Bisa lewat sms / call / Whats App di nomor : 081 297 191 370 
Untuk pembelian SOC-HCS nya atau bila Anda ingin mendaftarkan diri sebagai Mitra HCS.

Go Success HCS.....!!

Untuk lebih jelasnya, Anda bisa tanyakan langsung via call/sms/WA : 081297191370 atau lihat video cara membuat pakan kambing fermentasi dengan pola HCS berikut ni :



Selamat menyaksikan sampai tuntas, kalau ada pertanyaan, silahkan sms/call/WA :

081-297-191-370


Minggu, 24 April 2016

Testimoni Pemberian Pakan Kambing Fermentasi

Pakan Kambing Fermentasi memakai Gedebog Pisang Andalan Pak Marto

Gedebog pisang / batang pohon pisang mungkin bagi sebagian besar orang khususnya di Desa karangsari menjadi hal yang tidak berguna ataupun hanya digunakan ketika ada hajatan atau pagelaran wayang kulit bahkan sampai dibiarkan membusuk ketika menebang pohon pisang, namun gedebog pisang menjadi sangat berarti dan bermanfaat bagi salah seorang petani teladan dan berprestasi di Desa Karangsari RT 1 RW 3 yang bernama Suparman Marto Atmojo. (pak Marto nama panggilan) sangat layak dan pantas  untuk disebut sebagai petani teladan dan berprestasi karena Dia menjadi Ketua kelompok Tani Sedyo Mulyo yang mampu mengantarkan dan memimpin kelompok tani tersebut meraih berbagai piagam penghargaan dan piala perlombaan dari tingkat Kabupaten sampai tingkat Propinsi dan beberapa kali mendapatkan bantuan modal dan hibah dari pemerintah berupa alat mesin pertanian dan alat pembuatan pupuk organik serta beberapa bantuan lainnya.  Gedebog pisang menjadi menu utama dan makanan pokok bagi  5 ekor ternak kambing yang dipelihara oleh  pak Marto.
Pak Marto memulai membuat terobosan mempraktekan menggunakan gedebog pisang sebagai pakan kambing fermentasi dilatarbelakangi dari banyaknya keluhan dari warga desa Karangsari yang memelihara kambing ketika di musim kemarau sulit untuk mencari rumput untuk pakan ternak bahkan para pemilik ternak mencari rumput dan dedaunan sampai ke desa tetangga bahkan sampai ke desa yang berjarak sampai puluhan kilo meter demi mencukupi kebutuhan pangan agar kambing-kambing yang dipelihara tidak kelaparan. Melihat kondisi dan permasalahan tersebut, pak Marto dengan penuh semangat mulai berusaha mencari informasi dari berbagai sumber dan pihak terkait dan bahkan melalui media  internet yang dibantu oleh salah satu rekan pengurus Karang taruna Permatasari 10 untuk menggunakan komputer yang ada di sekretariat kelompok tani Sedyo Mulyo  untuk belajar menggunakan internet. Perjuangan dan usaha yang dilakukan oleh pak Marto tidak sia-sia dia bertemu dengan beberapa orang yang membantu mengajari dan melihat video yang telah diunduh dari Youtube untuk menggunakan alternatif lain selain rumput sebagai pakan ternak. Pada awalnya pak Marto tidak memiliki kambing dan tidak memiliki kandang kambing namun untuk membuktikan dan memberi contoh kepada warga sekitar di desa Karangsari dia harus praktek sendiri tanpa hanya sekedar teori belaka maka Dia memulai membuat kandang kambing dan membeli 1 ekor kambing pada bulan Agustus 2013 dan sampai Oktober 2013 kambing yang dimiliki berjumlah 5 ekor. Dia menjelaskan untuk dapat menjadikan gedebog pisang sebagai pakan  kambing fermentasi harus menggunakan metode fermentasi yang cukup hanya memerlukan waktu 2- 4 jam untuk siap diberikan ke kambing peliharaannya.
Cara  membuat fermentasi gedebog pisang sebagai pakan ternak kambing untuk 1 hari (3x makan) menurut pengalaman pak Marto misal untuk 5 kambing  adalah sbb :
*BAHAN-BAHAN :
15 kg gedebog pisang yang dipotong kecil-kecil, 1 kg bekatul, 1 sendok makan gula pasir, 1 sachet kecap manis, 1 tutup botol SOC (Suplemen Organik Cair). Untuk SOC bisa dibeli kepada Bpk Sartam tetangga rumahnya yang masih di RT 1 RW 3 seharga Rp 100.000 ukuran 500ml bisa dipakai untuk 50 kali proses fermentasi dan air bersih secukupnya untuk melarutkan campuran bahan–bahan yang ada.
* ALAT-ALAT :
1 buah parang/golok/sabit untuk memotong gedebog pisang. 1 buah ember/drum plastik besar  untuk menampung gedebog yang akan difermentasi, 1 buah gayung untuk mengambil dan menuangkan air bersih , serta 1 buah wadah plastik untuk melarutkan air dan cairan SOC. Plastik /terpal ukuran 1m untuk alas gedebog pisang yang telah dipotong kecil – kecil agar tidak kotor ketika proses pencampuran.
CARA MEMBUAT PAKAN KAMBING FERMENTASI DARI GEDEBOG PISANG UNTUK PAKAN TERNAK :
1. Potong kecil-kecil gedebog pisang agar kambing dapat memakan dan mencerna lebih mudah, kumpulkan jadi satu di plastik/terpal dan aduk rata dengan bekatul. 
2. Tuangkan dan campurkan larutan SOC 1 tutup botol, 1 sachet kecap manis, dan 1 sendok makan gula pasir  ke dalam wadah plastik, aduk hingga rata. Diamkan 15-20 menit.
 3. Tuangkan larutan SOC yang telah diaduk rata dengan bahan lainnya ke dalam campuran gedebog dan bekatul, aduk rata
4. Masukkan semua campuran gedebog pisang, bekatul/dedak yang telah dituang larutan SOC, kecap dan gula pasir ke dalam ember besar/wadah plastik  dan tutup rapat ember besar/wadah plastiknya 
5. Proses fermentasi paling cepat 2 jam sampai 4 jam. Setelah melalui proses fermentasi maka gedebog pisang siap diberikan ke kambing sebagai pakan ternak.

MANFAAT DAN KEUNGGULAN PAKAN KAMBING FERMENTASI DIBANDING RUMPUT :
* Menghemat waktu dan tenaga karena tidak perlu cari rumput atau dedaunan
* Meningkatkan nafsu makan sehingga penggemukan semakin cepat
* Memperbaiki proses pencernakan
* Lebih kebal terhadap penyakit
* Meningkatkan produksi susu
* Menjadikan susu dan daging kambing menjadi tidak prengus
* Mengurangi bau kotoran dan air kencing
* Kotoran menjadi lebih sedikit karena pakan menjadi tercerna dengan baik

Selain itu juga berdasarkan pengalaman yang dilakukan oleh Pak Marto bahwa kotoran kambing juga dapat dijadikan sebagai pupuk organik serta kencing kambing dapat dijadikan sebagai obat semprot organik dalam pertanian pengganti pestisida kimiawi.
Dengan terobosan dan inovasi yang telah dilakukan serta semangat belajar dan berbagi ilmu dari Pak Marto maka Pengurus dan anggota Karang taruna Permatasari 10 Desa Karangsari pada akhirnya ikut memulai mempraktekan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan bergabung menjalin kemitraan dengan kelompok Tani Sedyo Mulyo untuk mendirikan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dalam bidang peternakan kambing metode Fermentasi Pakan Kambing memakai gedebog pisang.
Salah satu nilai tambah/point plus  yang membuat Karang taruna Permatasari 10 menjadi juara 2 Karang taruna Berprestasi Tingkat Kabupaten adalah dengan adanya KUBE ternak kambing metode fermentasi dengan gedebog pisang. Untuk sebuah perubahan yang lebih baik perlu aksi nyata dan perjuangan serta pengorbanan. Mari gunakan teknologi informasi dengan bijak untuk masa depan yang penuh harapan seperti yang telah dipraktekan oleh Pak Marto dan Karang taruna Permatasari 10  Desa Karangsari Kecamatan Kebasen Kabupaten Banyumas.
Salam dari desa…..
Diambil dari http://republikkambing.com dgn sedikit perubahan

Kini telah hadir dan dijual, siap diaplikasikan :
Pupuk Organik Cair SSA, Pupuk Organik yang MAMPU melarutkan residu2/sisa2 pupuk Kimia (yang mengendap bertahun-tahun di tanah pertanian, perkebunan dan menjadikan tanah Pertanian dan Perkebunan menjadi semakin miskin hara dan mikroba karena panas yang ditimbulkan oleh residu tadi). 

Dengan disemprot Pupuk Organik Cair SSA, tanah Pertanian dan Perkebunan menjadi subur dan gembur kembali, tumbuh berbagai jenis mikroba baik yang akan semakin menyuburkan, sehingga hasil panenan semakin melimpah.
Untuk Informasi lebih lanjut, silahkan klik gambar di bawah ini :





Minggu, 17 April 2016

Macam-Macam Domba Di Indonesia

1. Domba Garut (Domba Priangan)


Menurut para pakar domba seperti Prof. Didi Atmadilaga dan Prof. Asikin Natasasmita, bahwa Domba Garut merupakan hasil persilangan segitiga antara domba lokal (asli Indonesia), Domba Cape/Capstaad (Domba Ekor Gemuk atau Kibas) dari Afrika Selatan dan Domba Merino dari Asia Kecil. Yang dibentuk kira-kira pada pertengahan abad ke 19 (±1854) yang dirintis oleh Adipati Limbangan Garut.
Sekitar 70 tahun kemudian yaitu tahun 1926 Domba Garut telah menunjukan suatu keseragaman, misalnya bentuk tanduk yang besar melingkar diturunkan dari Domba Merino.
Pada awalnya domba priangan atau domba garut ini berkembang di Priangan (Jawa Barat), terutama di daerah Bandung, Garut, Sumedang, Ciamis, dan Tasikmalaya. Namun saat ini sudah berkembang di seluruh pulau Jawa khususnya dan Indonesia pada umumnya. Domba ini dipelihara selain sebagai domba potong atau domba pedaging, juga dipelihara sebagai domba aduan.

Ciri-ciri domba garut :

  • Bertubuh besar dan lebar, lehernya kuat, dahi konveks.
  • Domba priangan jantan memiliki tanduk besar dan kuat, melengkung ke belakang berbentuk spiral, dan pangkal tanduk kanan dan kiri hampir menyatu. Sedangkan domba betina tidak memiliki tanduk, panjang telinga sedang, dan terletak di belakang tanduk.
  • Domba jantan mempunyai berat 40-80 kg, sedangkan betina 30-40 kg.
  • Kadang-kadang dijumpai adanya domba tanpa daun telinga.
  • Keunggulan domba priangan ini adalah kulitnya merupakan salah satu kulit dengan kualitas terbaik di dunia, selain itu dengan leher yang kokoh dan tubuh yang besar, kuat, domba ini sesuai untuk domba aduan. Keunggulan lainnya adalah penghasil daging yang sangat baik dan mudah dipelihara.

2. Domba Texel Wonosobo (Dombos)


Domba Texel atau juga dikenal dengan nama Dombos yang artinya Domba Texel Wonosobo. Pada bulan Juli 2009, peternak di Lampung Timur mendatangkan 75 ekor betina dan 1 pejantan domba Texel yang didatangkan dari daerah Dieng Wonosobo, dan ternyata dapat beradaptasi dan berkembang biak dengan baik di daerah Lampung Timur yang bersuhu panas.

Pada tahun 1954/1955 Pemerintah mendatangkan 500 ekor Domba Texel dari Belanda dan dialokasikan ke beberapa daerah di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah (Baturaden Banyumas dan Tawangmangu Solo) dan Jawa Timur, tetapi daerah tersebut tidak mampu mengembangkannya. Akhirnya tahun 1957, dipindahkan ke Daerah Wonosobo. Ternyata penduduk Wonosobo mampu mengembangkan Domba Texel tersebut, akhir tahun 2006 populasi mencapai 8.753 ekor.

Domba Texel mempunyai ciri khas yang mudah dibedakan dari domba jenis lain yaitu : Mempunyai bulu wol yang keriting halus berbentuk spiral berwarna putih yang menyelimuti bagian tubuhnya kecuali perut bagian bawah, keempat kaki dan kepala. Postur tubuh tinggi besar dan panjang dengan leher panjang dan ekor kecil.

Domba Texel tergolong ternak unggulan yang berpotensi sebagai penghasil daging. Bobot badan dewasa jantan dapat mencapai 100 kg dan yang betina 80 kg dengan karkas sekitar 55 %. Dalam penggemukkan secara intensif dapat menghasilkan pertambahan berat badan 265 – 285 gram/hari. Masyarakat Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah telah banyak merintis usaha penggemukan intensif terhadap Domba Persilangan Texel dengan Domba Lokal, yang menghasilkan keuntungan memadai. Di samping itu Domba Texel dapat menghasilkan bulu wool berkualitas sebanyak 1000 gram/ekor/tahun, yang dapat diolah sebagai komuditas yang mempunyai nilai tambah. Di pedesaan Wonosobo yang potensial Domba texel telah dirintis industri rumah tangga yang mengolah bulu wool Domba Texel.

Domba Texel tergolong ternak yang cepat berkembang biak, dapat beranak pertama kali pada umur 15 bulan dan selanjutnya dapat melahirkan setiap delapan bulan. Anak pertama cenderung tunggal dan anak berikutnya kadang-kadang kembar dua. Domba Texel mempunyai karakter genetik yang cenderung dominan. Di Kabupaten Wonosobo, Domba Texel telah banyak memberi kontribusi genetik terhadap domba-domba lokal melalui proses kawin silang, menghasilkan domba domba persilangan yang potensial sebagai penghasil daging.

Kendala pengembangan Domba Texel justru karena tingginya permintaan dari luar daerah yang disinyalir untuk di ekspor ke Malaysia. Hal ini sebenarnya meningkatkan pamor dan nilai harga Domba Texel itu sendiri, sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat peternak dan pedagang Domba Texel. Namun di sisi lain, bila pengeluaran ke luar daerah tak dikendalikan, bisa mengancam terjadinya pengurasan ternak. Kendala lain, perkembang biakan Domba Dexel masih tergantung pada kawin alam, berhubung belum terdapatnya Produsen Frozen semen Domba Texel.

Pemerintah telah berupaya melestarikan Domba Texel melalui Program Village Breeding Centre (VBC) Domba Texel yang meliputi kegiatan pendataan, droping Domba Texel Gaduhan Pemerintah, sosialisasi dan promosi pelestarian maupun teknik budidaya serta pelatihan pengolahan bulu, kulit dan daging Domba Texel.

3. Domba Batur Banjarnegara (Domas)

Domba Batur (atau Domas) sebenarnya merupakan domba hasil persilangan dari domba lokal yaitu domba Ekor Tipis (Gembel), domba Suffolk dan domba Texel.

Pada 1984, kelompok tani ternak di Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, berusaha menyilangkan domba bantuan presiden dengan domba lokal. Persilangan domba asal Tapos dan domba lokal menghasilkan keturunan yang oleh warga dinamai domba Batur atau Domas.
Pada awalnya berkembang di daerah Banjarnegara dan menjadi ikon Banjarnegara, dan sejak tahun 2009 mulai berkembang di beberapa daerah Jawa dan Sumatera.
Domba batur jantan maupun betina adalah tipe domba potong yang merupakan penghasil daging yang baik.

Ciri-ciri Domba Batur :
  • Tubuhnya besar dan panjang.
  • Kaki cenderung pendek dan kuat.
  • Domba jantan maupun betinanya tidak memiliki tanduk.
  • Kulitnya relatif lebih tipis dibandingkan domba garut, kibas, atau gembel, namun bulunya tebal.
  • Warna bulu dominan putih dan menutupi seluruh tubuhnya hingga bagian muka domba.
  • Keunggulan utama domba Batur ini adalah berat badannya. Untuk domba jantan dewasa berkisar antara 90-140 kg dan domba betina 60-80 kg, serta tinggi badan domba jantan dapat mencapai 75 cm dan tinggi domba betina 60 cm.
Domba Batur ini memang istimewa montok/gemuk, pada umur dua tahun domba jantan umumnya sudah bisa mencapai bobot 100 kg dan betina 80 kg. Bahkan, domba jantan yang bagus dapat mencapai bobot 140 kg. Domba dengan bobot seperti ini biasanya dijadikan pejantan.
Proporsi dagingnya (bukan karkas yang masih bertulang) juga tinggi. Dagingnya lebih empuk dan lemaknya lebih tinggi. Untuk sate lebih bagus.
Domba Batur mulai dapat dikawinkan pada umur 8 bulan saat si betina mencapai bobot 50—60 kg. Satu ekor pejantan mampu mengawini 10 ekor betina. Betina bunting selama lima bulan dan rata-rata jumlah anaknya 1,5 ekor per kelahiran.

4. Domba Ekor Gemuk ( Domba Kibas)


Domba Ekor Gemuk dikenal juga dengan nama Domba Kibas (di Jawa), juga dikenal sebagai domba Donggala, yang sekarang sudah dipatenkan menjadi domba ekor gemuk lokal Palu dari Sulawesi Tengah. Domba ini berasal dari Asia Barat atau India yang dibawa oleh pedagang bangsa Arab pada abad ke-18. Pada sekitar tahun 1731 sampai 1779 pemerintah Hindia Belanda telah mengimpor domba Kirmani, yaitu domba ekor gemuk dari Persia.
Pada awalnya domba Ekor Gemuk berkembang di Jawa Timur, Madura, Sulawesi, dan Nusa Tenggara (terutama di Lombok). Namun saat ini sudah berkembang di seluruh Indonesia.
Domba ini beradaptasi dan tumbuh lebih baik di daerah beriklim kering.

Ciri-ciri domba ekor gemuk :
  • Bentuk badannya sedikit lebih besar daripada domba lokal lainnya.
  • Berat domba jantan mencapai 40-60 kg, sedangkan domba betina 25-50 kg.
  • Tinggi badan pada jantan dewasa antara 52 – 65 cm, sedangkan pada betina dewasa 47 – 60 cm.
  • Warna bulu wolnya putih dan kasar.
  • Ekor yang besar, lebar dan panjang. Bagian pangkal ekor membesar merupakan timbunan lemak, sedangkan bagian ujung ekor kecil karena tidak terjadi penimbunan lemak. Cadangan lemak di bagian ekor berfungsi sebagai sumber energi pada musim paceklik.
  • Dada terlihat serasi dan kuat seperti bentuk perahu, ke empat kakinya kalau jalan agak lamban karena menanggung berat badan dan ekornya yang gemuk.
  • Umumnya domba jantan tidak bertanduk dan hanya sedikit yang mempunyai tanduk kecil, sedangkan yang betina tidak bertanduk.
  • Keunggulan Domba Domba ekor gemuk ini adalah tahan terhadap panas dan kering.
5. Domba Ekor Tipis (Domba Gembel)


Domba ekor tipis dikenal sebagai domba asli Indonesia dan sering disebut Domba Gembel, dalam Bahasa Inggris disebut Javanesse Thin-Tailed sheep.
Pada awalnya domba ini berkembang di daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat, namun saat ini sudah berkembang di seluruh pulau jawa khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Ciri-ciri domba ekor tipis :
  • Termasuk golongan domba berperawakan kecil, dengan berat badan domba jantan 30-40 kg dan domba betina 15-20 kg.
  • Bulu wolnya gembel berwarna putih dominan dengan warna hitam di sekeliling mata, hidung, dan beberapa bagian tubuh lain.
  • Ekornya tidak menunjukkan adanya desposisi lemak.
  • Telinga umumnya medium sampai kecil dan sebagian berposisi menggantung.
  • Domba jantan memiliki tanduk melingkar, sedangkan yang betina umumnya tidak bertanduk.
Keunggulan domba ekor tipis ini adalah bersifat prolific (dapat melahirkan anak kembar 2-5 ekor setiap kelahiran), mudah berkembang biak dan tidak dipengaruhi musim kawin, serta mampu beradaptasi pada daerah tropis dan makanan yang buruk.


Selasa, 12 April 2016

Macam-Macam Kambing di Indonesia

Di Indonesia banyak sekali ras kambing yang dikembangkan. Dan yang pertama kali dikembangkan yaitu kambing kacang yang merupakan ras unggulan. Kambing yang memiliki daya adaptasi tinggi ini merupakan kambing lokal Indonesia. Selain itu, kambing kacang juga daya reproduksinya sangat tinggi. Sehingga sangat direkomendasikan untuk kamu yang ingin berternak kambing. Kambing kacang merupakan tipe kambing pedaging, jantan maupun betinanya.

1. Kambing Kacang


Kambing Kacang adalah kambing yang pertama kali ada di Indonesia. Badannya kecil. Tinggi gumba pada yang jantan 60 sentimeter hingga 65 sentimeter. Sedangkan yang betina 56 sentimeter. Bobot pada yang jantan bisa mencapai 25 kilogram, sedang yang betina seberat 20 kilogram. Telinganya tegak, berbulu lurus dan pendek. Baik betina maupun yang jantan memiliki dua tanduk yang pendek.

Jenis ini merupakan yang terbanyak dan disebut juga kambing lokal. Berkembangbiak cepat karena umur 15-18 bulan sudah bisa menghasilkan keturunan, cocok penghasil daging karena sangat prolifik (sering lahir kembar) bahkan lahir tiga setiap induknya. Mudah dipelihara bahkan dilepas mencari pakan sendiri, kawin dan beranak tanpa bantuan pemiliknya.

Ciri-ciri utama:


- Bulu pendek dan satu warna (coklat,hitam,putih) atau kombinasi dari ketiga warna tersebut
- Jantan betina bertanduk, telinga pendek dan menggantung

- Bobot yang jantan dewasa rata-rata 25 kg, tinggi tubuh gumba 60-65 cm dan betina 20 kg, tinggi tubuh 56 cm.
- Peluang induk lahir kembar 52%, kembar tiga 2.6% dan tunggal 44.9%
- Dewasa kelamin jantan umr 135-173 hari, betina 153-454 hari. Rata-rata betina beranak umur 12-13 bulan
- Prosentase karkas 44-51%


Rata-rata betina beranak umur 12-13 bulan dengan bobot lahir 3.28 kg dan Bobot Sapih 10.12 kg
2. Kambing Etawa (Kambing Jamnapari)

Kambing Etawa disebut juga kambing Jamnapari karena kambing ini berasal dari wilayah Jamnapari India. Tepatnya Kambing Jumna Pari atau Jamnapari mengambil nama sungai Jamna (Jamna par) di Uttar Pradesh , India dimana kambing ini banyak terdapat. Kambing Jamnapari juga banyak terdapat di Agra, Mathura dan daerah Etawa di Uttar Pradesh , Bhind dan daerah Morena di Madhya Pradeshi.

Kambing etawa dikenal di Asia Tenggara sebagai kambing tipe dwiguna yaitu penghasil susu dan penghasil daging. Jamnapari di impor pertama kali ke Indonesia sejak 1953 dari daerah Etawa, India. Tetapi dipercayai menurut Balitnak kambing PE masuk di Indonesia sekitar 1931 pada masa penjajahan Belanda. Di Indonesia kambing Etawa disilangkan untuk perbaikan mutu kambing lokal, hasil persilangan disebut kambing PE (Peranakan Etawa).

Ciri-cirinya :


- postur tubuh besar, 
- telinga panjang menggantung, 
- bentuk muka cembung, 
- hidung melengkung, 
- bulu bagian paha sangat lebat,
- baik jantan maupun betina bertanduk, 
- telinga panjang terkulai sampai 30 cm. 
- kaki panjang dan berbulu panjang pada garis belakang kaki. 
- warna bulu belang hitam putih atau merah dan coklat putih.

Produksi susu yang baik sebanyak 3 liter/ekor/hari atau produksi susu mencapai 235 kg/ms laktasi. hal ini didukung oleh kambing yang besar dan panjang. Tinggi badan jantan dewasa mencapai 90-127 cm, sedangkan yang betina dewasa 76-92 cm. Bobot badan jantan dewasa 68-91 Kg dan yang betina dewasa 36-63 Kg.

Sentra terbesar kambing PE adalah di Kaligesing Purworejo Jawa Tengah. Purworejo (Jateng), Girimulyo, Kulonprogo dan Turi, Sleman (Yogyakarta). Kambing PE juga telah berkembang di Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung, Bali dan Jawa Tengah.

Di Indonesia kambing PE disilangkan dengan kambing Saanen untuk menghasilkan persilangan penghasil susu yang bisa menghasilkan 1.5 - 3 liter susu sehari. PE juga disilangkan dengan jenis kambing lokal seperti Kambing Kacang dan Kambing Jawa dan di namakan Kaplo (Koploh), Kaprindo, Bligon, Jawa Rando (Jawa Randu / Jawarandu). Jenis kambing yang sesuai untuk jenis kambing pedaging . Ukuran tubuh lebih kecil dari PE dan mudah diternak.

3. Kambing Boer


Asal kambing Boer yaitu dari Afrika Selatan. Selah ter-registrasi lebih dari 65 tahun. “Boer” memiliki arti petani. Dengan pertumbuhannya sangat cepat, kambing Boer merupakan kambing pedaging sesungguhnya.
Berat 35–45 kg dapat dicapai kambing boer pada usia lima hingga enam bulan. Rata-rata pertambahan berat badan sekitar 0,02 – 0,04 kg per hari. Semua ini tergantung pada jumlah susu dari induk dan pakan sehari-harinya. Pada umur 2-3 tahun, kambing Boer jantan memiliki berat badan 120 – 150 kg, sedangkan Betina dewasa akan mempunyai berat 80 – 90 kg pada umur yang sama. Boer betina maupun jantan keduanya bertanduk.
Persentase daging pada karkas kambing Boer mencapai 40% – 50% dari berat tubuhnya. Jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan kambing perah lokal.
Kambing Boer dapat dikenali dengan mudah dari tubuhnya yang panjang, lebar, berbulu putih, berkepala warna coklat kemerahan atau coklat muda hingga coklat tua, berhidung cembung, bertelinga panjang menggantung, berkaki pendek. Beberapa kambing Boer di wajahnya memiliki garis putih ke bawah. Kulitnya berwarna coklat dan dapat melindungi dirinya dari kanker kulit akibat ultraviolet dari sinar matahari langsung. Kambing ini sangat suka berjemur di siang hari.
Kambing Boer dapat bertahan hidup pada suhu lingkungan yang ekstrim. Dari suhu yang sangat dingin (-25 derajat celcius) hingga suhu yang sangat panas (43 derajat celcius). Kambing boer sangat mudah beradaptasi dengan perubahan suhu lingkungan. Mereka dapat hidup di kawasan semak belukar, lereng gunung yang berbatu atau di padang rumput dan tahan terhadap penyakit. Secara alamiah kambing boer adalah hewan yang suka meramban sehingga lebih menyukai daun-daunan, tanaman semak daripada rumput.

4. Kambing Jawarandu (Bligon, Gumbolo, Kacukan, Koplo)


Nama lain Kambing Jawarandu yaitu Bligon, Gumbolo, Kacukan, dan Koplo. Kambing ini merupakan hasil persilangan antara kambing peranakan etawa dengan kambing kacang. Yang lebih dominan di kambing jawarandu yaitu sifat fisik kambing kacang. Kambing jawarandu dikembangkan untuk menghasilkan susu. Susu yang dihasilkan oleh kambing jawarandu sebanyak 1,5 liter per hari atau lebih sedikit dari kambing etawa.
Ciri-ciri kambing Jawarandu:
·         Tubuhnya lebih kecil dari kambing etawa, Dan bobot kambing jantan dewasa dapat lebih dari 40 kg, sedangkan bobot betina tidak lebih dari 40 kg.
·         Jantan dan betina bertanduk.
·         Telinganya terbuka lebar, panjang dan terkulai.
·         Baik jantan maupun betina merupakan tipe pedaging dan penghasil susu.
5. Kambing Peranakan Etawa

Tujuan utama dikembangkannya kambing ini yaitu untuk lebih mampu beradaptasi dengan kondisi Indonesia. Kambing peranakan etawa merupakan hasil dari persilangan antara kambing etawa dan kambing kacang. Dikenal dengan nama kambing PE (Peranakan Etawa), dan dianggap sebagai kambing Lokal.
Ukuran tubuh kambing PE hampir sama dengan kambing Etawa namun lebih adaptif terhadap lingkungan di Indonesia. Tidak seperti kambing jawarandu, kamnbing PE memiliki tubuh dengan tanda berada diantara kambing Etawa dan kambing Kacang. Jadi sebagian lebih ke arah kambing Etawa, dan sebagian yang lain lebih ke arah kambing Kacang.
Awalnya kambing PE hanya tersebar di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa. Namun saat ini sudah tersebar hampir di seluruh Indonesia. Sifat yang berbeda dengan kambing Etawa yaitu libido yang dimiliki kambing jantan sangat tinggi.
Ciri-ciri kambing Peranakan Etawa:
·         Warna bulu belang hitam, coklat, putih, dan merah.
·         Sebagaimana Etawa, kambing ini memiliki tubuh besar. Pejantan bobotnya bisa mencapai 90an kg, sedangkan betina hanya 60an kg.
·         Telinganya terkulai ke bawah, bergelambir cukup besar dan panjang.
·         Dahi dan hidungnya cembung.
·         Pejantan dan betina bertanduk kecil/pendek.
·         Memiliki bulu panjang pada dagu, daerah belakang paha, dan ekor.
·         Kambing Peranakan Etawa mampu menghasilkan susu hingga tiga liter per hari sebagaimana kambing etawa.
6. Kambing Saanen

Kambing Saanen berasal dari lembah Saanen, Swiss bagian barat. Kambing ini merupakan salah satu jenis kambing penghasil susu kambing yang terkenal dan terbesar di Swiss. karena kepekaannya terhadap matahari, sehingga Sulit berkembang di wilayah tropis. Di Indonesia kambing Saanen disilangkan dengan kambing peranakan etawa yang lebih resisten terhadap cuaca tropis dan tetap diberi nama kambing Saanen.
Ciri-ciri kambing Saanen:
·         Memiliki bulu pendek berwarna putih dengan titik hitam di hidung, kelenjar susu, dan telinga.
·         Muka berbentuk segitiga dengan hidung yang lurus.
·         Telinganya sederhana dan tegak.
·         Ekor pendek dan tipis.
·         Bertanduk, Jantan maupun betinanya.
·         Berat kambing Saanen jantan dewasa 68-91 kg dan 36-63kg untuk kambing betina. Tinggi ideal kambing ini 81 cm dengan berat 61 kg, saat tingginya 94 cm beratnya 81 kg.
·         Produksi susu 740 kg/ms laktasi.
7. Kambing Gembrong

Kambing Gembrong terdapat Bali tepatnya di daerah kawasan Timur, terutama di Kabupaten Karangasem. Hewan ini mirip anjing yang berbulu panjang dan lebat. Badannya memang mirip kambing, namun bila melihat bulunya mirip anjing karena sangat lebat. Seluruh badan dipenuhi dengan bulu. Itulah kambing asal Bali yang hampir punah. Kambing gembrong merupakan hasil persilangan antara kambing Kashmir dengan kambing Turki.
Ciri khas kambing Gembrong jantan yaitu bulunya panjang, lebat, dan mengkilap. Tumbuh dari kepala hingga ke ekor. Panjang bulunya bisa mencapai 25—30 cm. Minimal setiap 12—16 bulan bulunya dicukur sekali. Karena jika tidak dicukur, bulu bagian kepala akan menutupi mata dan telinga. Sehingga mempersulit kambing saat makan.
Sedangkan kambing betina, bentuk dan ukuran tubuhnya mirip kambing kacang. Tetapi di bagian bawah perut melebar. Yang betina juga bertanduk, namun lebih pendek dan berbentuk oval. Kambing Gembrong betina berbulu pendek berkisar 2-3 cm.
Pada umumnya Warna tubuh dominan kambing Gembrong yaitu putih, sebagian berwarna coklat dan coklat muda. Kebanyakan pola warna tubuhnya satu warna, sebagian lagi dua sampai tiga warna. Tinggi kambing dewasa 58-65 cm, bobot tubuh mencapai 32-45 kg. Kambing jantan berjumbai pada dahi, yang dapat menutup mata dan muka kambing.
Ada pula peternak yang mencoba menyilangkan kambing Gembrong dengan kambing Peranakan Etawa (PE). Dari persilangan itu dihasilkan kambing gettah alias gembrong ettawah.

8. Kambing Samosir (Kambing Putih, Kambing Batak)


Berdasarkan sejarahnya kambing Samosir ini dipelihara penduduk setempat secara turun temurun di Pulau Samosir, di tengah Danau Toba, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara.
Tubuh kambing dewasa yaitu rataan bobot badan betina 26 – 32 kg; panjang badan 57 – 63 cm; tinggi pundak 50 – 56 cm; tinggi pinggul 53 – 59 cm; dalam dada 28 – 33 cm dan lebar dada 17 – 20 cm.
Berdasarkan ukuran morfologik tubuh, bahwa kambing spesifik lokal Samosir ini hampir sama dengan kambing Kacang yang ada di Sumatera Utara. Pemberian nama kambing Samosir pada saat ini masih secara lokal dan dikenal dengan nama Kambing Putih atau Kambing Batak.

9. Kambing Kosta


Lokasi penyebaran kambing Kosta ada di sekitar Jakarta dan Propinsi Banten. Kambing ini mempunyai bentuk tubuh sedang, hidung rata dan kadang-kadang ada yang melengkung, tanduk pendek, bulu pendek. Kambing ini dulunya terbentuk dari persilangan kambing Kacang dan kambing Khasmir (kambing impor).
Salah satu ciri khas Kambing Kosta adalah terdapatnya motif garis yang sejajar pada bagian kiri dan kanan muka. Selain itu terdapat pula ciri khas yang dimiliki oleh Kambing Kosta yaitu bulu rewos di bagian kaki belakang mirip bulu rewos pada Kambing Peranakan Ettawa (PE), namun tidak sepanjang bulu rewos pada Kambing PE dengan tekstur bulu yang agak tebal dan halus. Tubuh Kambing Kosta berbentuk besar ke bagian belakang sehingga cocok dan potensial untuk dijadikan tipe pedaging. Saat ini populasi Kambing Kosta terus menyusut.

10. Kambing Boerawa


Kambing Boerawa merupakan kambing hasil persilangan antara kambing Boer jantan dengan kambing Peranakan Etawah (PE) betina. Kambing boerawa mulai berkembang dan banyak jumlahnya di Propinsi Lampung.

11. Kambing Muara


Kambing Muara dijumpai di daerah Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara di Propinsi Sumatera Utara. Dari segi penampilannya kambing ini nampak gagah, tubuhnya kompak dan sebaran warna bulu bervariasi antara warna bulu coklat kemerahan, putih dan ada juga berwarna bulu hitam.

12. Kambing Marica


Kambing Marica adalah suatu variasi lokal dari Kambing Kacang yang terdapat di Provinsi Sulawesi Selatan, dan merupakan salah satu genotipe kambing asli Indonesia yang menurut laporan FAO sudah termasuk kategori langka dan hampir punah (endargement).

Daerah populasi kambing Marica dijumpai di sekitar Kabupaten Maros, Kabupaten Jeneponto, Kabupaten Sopeng dan daerah Makassar di Propinsi Sulawesi Selatan. Kambing Marica punya potensi genetik yang mampu beradaptasi baik di daerah agro-ekosistem lahan kering, dimana curah hujan sepanjang tahun sangat rendah. Kambing Marica dapat bertahan hidup pada musim kemarau walau hanya memakan rumput-rumput kering di daerah tanah berbatu-batu. Ciri yang paling khas pada kambing ini adalah telinganya tegak dan relatif kecil pendek dibanding telinga kambing kacang. Tanduk pendek dan kecil serta kelihatan lincah dan agresif.